Senin, November 14, 2011

Skripsi? Hanya Tuhan dan KUA yang Tahu


Proses proses proses.....selama hidup berapa banyak yang bilang bahwa proses lebih penting daripada hasil?  Sayangnya aku tidak menghitung. Selama hidup juga pada kenyataanya berapa banyak orang yang belari-lari mengejar hasil sampai-sampai ga menikmati prosesnya bahkan ga tau seperti apa proses yang sebenarnya. Sepertinya lebih banyak.


Setiap kali baru mau nikmatin prosesnya seseorang bilang cepetan toh, selesaikan, dan itu tejadi dalam pengerjaan skripsi. Berapa kali dosen aku, dosen kamu, dosen kalian bilang, "Cepetan selesaikan skripsinya, ga usah idealis."

Ketemu di taman, di lobby, di ruang kuliah, di TU mereka menanyakan skripsi. Apa yang terjadi kemudian? Berapa banyak skripsi yang kopi paste, tulis ulang, bahkan ditulisin orang lain?

Dalam hal ini bapak saya sepertinya orang sangat berbesar hati. Beliau kerja keras kuliahin anak cewek satu-satunya ini, ga tau di kampus ngapain, ga tau juga hasilnya apa, tapi beliau tetep positif thinking. Terakhir beliau nanya, "Skripsinya sampai mana?"
"Beli aja ya pak ya, lebih murah dan cepet daripada nungguin aku bikin sendiri," jawabku.
Jawaban bapakku waktu itu adalah sesuatu yang nggak ku sangka. Kupikir beliau akan tersenyum pahit, atau marah-marah lebay kayak di sinetron. Beliau bilang sesuatu yang bikin aku jleb, speachless, "Yang penting itu kan tahu gimana bikinnya, bukan kecepatannya."

Dua juta cukup buat beli skripsi, tapi beliau milih tetep biayain aku tiap bulan, biayain pembuatan skripsiku, bayarin kos, dan sebagianya. Itu juga artinya semakin lama waktuku semakin banyak biaya yang mesti dikeluarkan, tetep kerja keras buat ibu dan bapakku, renovasi rumah mesti ditunda, beli mesin pengupas padi juga ditunda, dan segala macam impian yang cuma bisa terlaksana dengan kelonggaran dana.

Sepertinya bapakku adalah orang yang senang nikmatin proses juga. Aku bisa bayangin betapa under pressure -nya bapakku punya anak kayak aku kalau tidak berusaha menikmati baik-baik. Mungkin beliau sering menangis saat berdoa, juga ibuku, mungkin beliau agak menyesal membelikanku anting, karena selalu hilang. Kasian yah. hu...uh.

Gara-gara ngobrol sama temen-temen di pantai Siung siang-siang dan rada ngatuk, soal skrips ini kebawa mimpi dan pikiran sampai sekarang. Memori bawah sadarku diserang badai skripsi. Kebayang kan betapa menggangunya itu. Intinya adalah, so what.

Kalau aku melakukan penelitian tentang hal itu, trus kenapa? Apa manfaatnya buat aku sendiri, buat ilmu pengetahuan, buat orang yang aku teliti? Apa daya dukung skripsimu buat hidup dan masa depanmu? Mungkin tetep bakalan lulus dengan topik itu, so what? Jleb...akh... Mikir-mikir berhari-hari, siang malam, akhirnya proposalku ga bisa bantu menjawab semua pertanyaan itu. karena aku nggak bisa jawab pertanyaan so what itu kutinggalkan bab 1-3 ku. Mencari-cari judul yang memilki DAYA DUKUNG MASA DEPAN. Bakal selesai kapan? Hanya Tuhan dan KUA yang tahu.

Pemuda emang mesti idealis, coz kalo nggak brati ia tidak menikmati kemudaanya. Ahihihhi...berdalih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar