Kamis, November 10, 2011

Backpaker, Orang tua, dan Pahlawan

picture by picturecorrect.com
Beberapa hari lalu di depan warnet melintas seorang bapak-bapak yang memakai tudung kepala, jaket panjang, celana 3/4 dan tas cangklong yang sepertinya cukup berat. Semuanya warna hitam kecuali tudung kepalanya yang berwarna putih. Ia menggandeng seorang anak lelaki sekitar usia 7atau 8 tahun dan ia mendengar dengan seksama celoteh anak tersebut sambil sesekali membungkukkan badan dan menunduk kepalanya.

Sepertinya mereka ayah dan anak, yang sudah menempuh perjalanan jauh dan dengan jalan kaki. Itu mengingatkanku pada kejadian sekitar awal Juli 2011 di Solo. Saat itu sudah malam, saat seorang ayah dan anak berjalan menghampiri dengan nafas yang ngos-ngosan menanyakan jalan ke stasiun kereta barang.

Sambil menghela nafas mereka sempat bercerita bahwa mereka dari jawa timur dan akan ke Bandung. Saat teman saya bilang jaraknya masih jauh, sekitar 25 km tidak ada mimik kecewa di wajah mereka. Setelah mengucapkan trerimakasih dengan logat sunda yang kental mereka melanjutkan jalan kaki dengan semangat.

Saya dan teman berpikir bahwa mereka adalah backpaker sesungguhnya. Sepasang ayah dan anak lelakinya yang berusia sekitar 12 tahun menyusuri jalanan kota asing di malam hari demi mencari transportasi gratis. Apakah saat keadaan berubah dan mereka tak butuh gratisan lagi si anak akan menceritakan hal itu sebagai sesuatu yang hebat? Atau apapun keadaanya ia selalu menganggap ayahnya hebat, kawan petualangannya sekaligus mentornya? Atau malah menyadarai bahwa itu bukanlah yang ia inginkan? Saya tak tahu.

Meski pada akhirnya setiap anak mengambil jalannya masing-masing, orang tua selalu punya peran menguatkan atau malah melemahkan cita-cita sang anak., atau menciptakan anak yang oposisional yang menentang semua hasrat orangtuanya, tak peduli isinya tapi hanya ingin menentang. Apapun orang tuamu hidupmu adalah pilihanmu, setuju tidak setuju itu tetap pilihanmu. Kamu adalah pahlawan bagi dirimu sendiri, apa yang kamu jalani sekarang berasal pilihanmu sebelumnya karena alasan 'tidak ada pilihan' sebenarnya tidak pernah benar-benar ada.

Selamat Hari Pahlawan Kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar