Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 23, 2012

Menerobos Malam demi Sunrise Puncak Suroloyo

Matahari perlahan muncul dari balik perbukitan.
Apalagi tujuannya kalau bukan mengejar sunrise. Kali ini lokasi perburuan kami adalah tempat yang katanya adalah salah satu titik sunrise terbaik di Yogyakarta, Puncak Suroloyo. Untuk ke sini saat matahari terbit memang butuh perjuangan terlebih kami belum tahu jalurnya.

Lokasinya yang agak jauh di luar kota Yogya, yaitu di kecamatan Samigaluh, kabupaten Kulonprogo, membuat saya dan Putri terjaga jam 3 pagi dan memulai perjalanan sekitar pukul 3.30. Malam sebelumnya sedapatnya saya mencari rute dan alamatnya untuk dilalui, juga jadwal matahari terbit.

Cahaya matahari membentuk siluet di Puncak Suroloyo.

Setelah sekitar dua jam perjalanan, seharusnya tidak selama itu karena sepertinya kami jalan memutar sekaligus menjumpai jalan menanjak dengan aspal keropos dan lubang di sana sini, sekitar pukul 05.39 kami tiba di parkiran puncak Suroloyo. Lalu dengan terengah kami berlari menaiki tangga yang sepertinya tak habis-habis, kami harus berlari demi menyaksikan kemunculan pertama matahari hari itu karena sunrise diperkirakan sekitar pukul 05.41. Benarlah apa kata google,  saat kami tiba di puncak berkas sinar matahari kuning telah  mulai menyorot langit.
Putri berpose untuk kenang-kenangan perjalanan kami.
Terpesona dengan kejaiban alam kami terdiam sambil mengulum senyum. Tak sia-sia kami menyempatkan diri, gogling, bangun dini hari, mengestimasi waktu perjalanan, berlari menaiki ratusan anak tangga, semuanya dengan sendirinya terbayar oleh kebahagiaan luar biasa bisa menyaksikan semua keindahan ini.

Alam begitu menghipnotis kami. Matahari mulai menghatkan bumi, semburat warna kuningnya sangat megah, dan awan pun perlahan menyingkir dari puncak-puncak perbukitan, berada lebih rendah dari tempat kaki kami berpijak. Jadilah kami di ketinggian sekitar 1000mdpl tapi serasa diatas awan.

Sambil minum susu saya mulai melakukan kebiasaan buruk, berharap seseorang itu ada di sini, saling tersenyum dan sama-sama bahagia menyaksikan semua ini, (red; orang yang hanya bisa dibahagiakan dengan keindahan alam). Harapan semacam itu selalu bisa merusak pemandangan dan moment seindah apapun. Membuatku selalu merasa kurang, atau malah mencari-cari kekurangan? Keindahan alam yang hanya beberapa menit itu akhirnya tercemar oleh pikiran negatif. 

Saya menuruni tangga saat matahri mulai tinggi.
Setelah matahari telah agak tinggi kami memutuskan untuk turun. Beberapa pengunjung lain pun berdatangan, tapi tak ada yang lebih pagi dari kami. Saat turun kami masih bingung dengan rute yang kami lewati, 3 kali memutar jalan yang sama dan satu kali terjebak di jalan buntu. Kadang kebodohan diri memang mesti diakui dan dimaklumi, kami memang lemah dalam kemampuan ekolokasi. Sambil cekikikan kami menyaksikan seorang kakek di depan rumah yang terlihat bingung seolah baru saja mengalami de javu saat kami melintas di hadapannya untuk yang ke 3 kalinya.

Terlalu mubazir rasanya kalau langsung pulang, perjalanan pun kami lanjutkan ke gua kieskendo, karena perjalanan lanjutan ini tanpa management kami mengandalkal plank yang dipasang oleh dinas lalu lintas dan GPS (Gunakan Penduduk Setempat).



Rabu, Oktober 24, 2012

Nicolai Sergeevic Varfolomeyeff


Apa yang di dapatkan orang ketika ke kuburan? Nisan? Bunga kamboja? Rumput ilalang? Hal yang baru belakangan saya sadari mengenai kuburan adalah adanya nilai intrinsik yang cukup tinggi yaitu sejarah.

Sejarah yang saya dapatkan di kuburan itu tentu saja mesti saya gali lebih jauh, bukan di kuburannya tentu saja. Bahkan saat ke kuburan itu pun niat saya juga menelusuri sejarah.

Saat itu saya lagi seneng baca teori konpirasi tentang freemasonri di Indonesia, spesifiknya Yogya. Mencari-cari kuburan belanda niatnya juga mencari lambang-lambang mereka setelah dapat kuburannya ternyata tak dapat lambangnya tapi malah dapat yang lain salah satunya si Nicolai Sergevic Varfolomeyeff itu.

Satu-satunya bintang daud di Sasanalaya
Kuburan belanada adalah yang kini menjadi Tempat pemakaman umum Sasanalaya. Saya temukan juru kuncinya amat ramah, saya lupa namanya. Beliau menceritakan bagaimana rupa pekuburan tersebut di masa lalu, luas wilayahnya juga mengantar saya berkeliling, menunjukkan kuburan-kuburan beberapa orang penting di masa lalu, kebanyakan nama-nama yang belum pernah saya dengar. Meskipun menghadapi ketidaktahuan saya beliau tetap bercerita sambil berjalan.

Nama yang tak saya lupakan di nisan itu adalah Nicolai Sergeevic Farfolomeyev yang disebut juru kunci sebagai salah satu guru musikus terkenal Idris Sardi, meskipun bukan hanya Idris Sardi yang menimba ilmu padanya. Nisannya telah ambrol karena gempa Yogya 2006, namun pahatan namanya di nisan itu masih cukup jelas.

Tertarik pada nama yang bikin lidah kepleset itu saya kemudian mencarinya di internet. Nicolai memang benar salah satu guru musik Idris Sardi sewaktu di Yogya yang berasal dari rusia. Koran-koran Belanda pada tahun 1930an pun menunjukkan adanya iklan tentang acara musiknya di radio bersama Foormans Orkestra dengan pimpinan orkestra Julius Fuhrmann, musiknya diperdengarkan di radio Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Salah satu karyanya yang cukup terkenal hingga kini adalah pada lagu nyiur hijau ciptaan Maladi. Nicolai juga menjadi salah satu musikus dalam peringatan 11 tahun kematian Cornel Simanjuntak pada tahun 1968.

Kuburan yang separuh terpendam di Sasanalaya.
Sejauh ini hanya itu informasi yang saya dapat mengenai dirinya. Selain kesan bahwa ia adalah orang asing yang mati di rantau. Saat kebanyakan pendatang Eropa angkat kaki dari Indonesia pada masa kemerdekaan ia tetap tinggal dan melanjutnya karir bermusiknya di sini hingga meninggal.

Saya merasa bahwa saya menggalinya terlalu personal. Ya, sejarah pun bisa dipersonalisasi. :D

Sumber :

Rabu, Mei 16, 2012

Culture Understanding Reconstruction at Ullen Sentalu Museum



Tiba di museum Ullen Sentalu. Udara sejuk dan langit yang cerah, ditemani merapi selama perjalanan. Meski merapi bisa ganas tapi dia tetap selalu menggoda untuk dilihat dan diketahui, kami pun masih menyimpan impian untuk bisa mendaki hingga puncak, mendekatinya dan bersahabat saat ia sedang tenang.

Setelah beberapa kali salah jalan dan bertanya orang akhirnya ketemu juga lokasi museum Ullen Sentalu.

Terawat. Itulah kesan yang pertama muncul saat berada di depan museum itu. Hijau dan sejuk. Pohon tertata rapi dan bersih. Akar pohon semacam beringin berjuluran di depan pintu masuk.

Setelah mendapatkan tiket seharga Rp. 25.000 per orang. Pengunjung yang dibentuk dalam kelompok berkeliling ditemani seorang pemandu. Mba Fafa mengantar dan menjelaskan dengan bersemangat bersama pengunjung yang sangat berminat, sehingga terjadi interaksi yang menarik. Ini bukanlah kunjuangan sia-sia. Pemandu yang komunikatif, pengunjung yang aktif. Lagi-lagi liburan yang hebat.

Ruang ke ruang kami diajak untuk mengenal dan menyelam lebih jauh budaya dan sejarah Jawa. Awalnya saya menganggap segala macam symbol yang ada dalam kehidupan keraton hanya tetek bengek ritual iseng yang dibikin ribet. Itulah kesalahanku (mungkin juga system dan pola pendidikan) bahwa banyak hal dipahami dari ritualnya bukan esensinya.

Sepanajang ruangan tour terdapat bunga-bunga tanpa kemenyan dalam loyang-loyang kecil. Meskipun museum ini tentang kerajaan mataram ternyata ini bukan semacam ritual dengan sesajen kembang 7 rupa yang sering di dengar di televisi atau film terror (terror untuk pikiran yang menyebabkan salah pemahaman tentang budaya sendiri). Bunga-bunga harum tersebut adalah pengharum ruangan alami. Tujuannya agar udara menjadi segar dan koleksi museum tidak rusak karena bunga tidak menyipan zat berbahaya seperti yang terdapat pada pewangi pabrikan. Ini bukan hal baru tapi sering dilupakan. Coba dibuat lupa lebih tepatnya.

Koleksi-koleksi banyak menceritakan tentang perempuan dalam keraton. Sesuatu yang jarang didengar karena kebanyakan para laki-lakilah yang banyak disebut sedangakan para perempuan pendukung yang berada di belakangnya hanya dianggap sebagai figuran. Founding father bangsa ini sering di sebut-sebut tapi istilah ‘founding mother’ saja tidak ada.

Museum tersebut menggambarkan bahwa pendidikan keraton terhadap perempuan yang seringkali tampak kaku dan banyak aturan ternyata tak berarti bahwa perempuan keraton hanya melakukan apa yang digembar-gemborkan sebagai budaya khusus Jawa. Budaya Jawa bisa dilakukan beriringan dengan budaya lain. Perempuan keraton bisa saja bermain piano dengan mengenakan kebaya dan kain batik.  Bisa juga memakai kain batik, baju kebaya dan mantel bulu serta selop dari brand terkenal, atau memakai kalung panjang yang bandul dari bulu burung flamingo. Sungguh tidak sekaku yang dikira sebelumnya. Ini adalah hal baru bagi saya.

Lukisan yang paling teringat adalah lukisan mangkunegaran (raja dari Solo) dengan seluruh abdi perempuan yang membawa berbagai pusaka kerajaan. Lukisan yang di cover dengan kaca 3 dimensi tersebut membuat gambar Mangkunegaran seolah mengikuti arah penontonnya, sedangkan lukisan 3 dimensi seorang putri di ruang yang sama matanya terlihat terus-terusan mengawasi pengunjung.

Pusaka sendiri adalah perlambang sifat-sifat yang dimiliki manusia dalam kehidupan. Bukan sekedar jimat supaya sakti mandraguna seperti yang kebanyakan di dengar. Jika seseorang memelihara pusaka yang baik-baik (memelihara sifat baik) maka baiklah ia, jika ia memelihara pusaka yang sebaliknya maka begitulah ia. Maka dalam cerita-cerita ketika seseorang memiliki pusaka tertentu ia menjadi bertambah kesaktiannya ternyata secara simbolis berarti sifat-sifat seperti digambarkan dalam pusaka tersebut mengambarkan kualitas kepribadian pemiliknya.

Satu lagi koleksi yang berkesan adalah foto Soekarno saat dilantik menjadi presiden Republik Indonesia Serikat di Siti Hinggil keraton Yogyakarta 15 Agustus 1950. Beberapa hari sebelumnya saya membaca catatan pinggir Goenawan Muhamad di blognya yang mendeskripsikan pakaian Soekarno dan Fatmawati. Saya merasa takjub dengan foto hitam putih yang kemudian mengundang ingatan saya tentang pendeskripsian GM akan keadaan di siti hinggil waktu itu.

Belum sempat mengamati dan menikmati koleksi demi koleksi pengunjung segera di gerak pada koleksi berikutnya. Batik, lukisan, patung, puisi, foto semuanya terasa berlalu begitu cepat. Bagaimanapun museum ini mengajak semuanya untuk menililik kembali pada budaya kita. Local wisdom bukanlah jargon. Local wisdom adalah segala yang dipunya dari segala yang telah di sintesis bangsa ini, dan museum adalah adalah sarana mengenal lebih dekat kearifan local tersebut.

Sesi foto di taman terasa berlalu begitu cepat.

Lain kali bolehkah saya seorang diri di ruang display menapaki koleksi demi koleksi, membacai setiap deskripsi. Karena rasanya begitu banyak yang tak saya ketahui dari bangsa ini. Karena sepertinya saya butuh lebih banyak culture understanding reconstruction.

Cara terbaik memelihara budaya adalah dengan memahami budaya itu sendiri.

Selesai berkeliling di Ullen Sentalu lagi-lagi mengisi perut dengan sate kelinci yang lapaknya bertebaran di daerah Kaliurang.


Selasa, Februari 14, 2012

Ini Pun kasih Sayang


Ini pun kasih sayang si induk kucing (Sisi) kepada anak-anak nya. Setelah semalaman berjuang melahirkan anak-anaknya ia masih harus menguru mereka sendirian, tanpa seorang asistenpun. Menjilati tubuh 4 anaknya yang berlendir setelah itu menyusuinya.

Bagi mereka kasih sayang itu bukan tentang coklat, tapi berbaggi susu dari 8 puting induknya.


Sekali lagi kasih sayang itu bukan cerita tentang coklat, tapi tentang berbagi. Bahkan cendol pun berlaku.


 Mendoakan yang baik pada orang tak bisa bersama lagi pun kasih sayang.


Berbagi keceriaan dengan kawan seperti ini pun kasih sayang.


Bermanja di pelukan sang kakek pun kasih sayang.


Bahkan meniup gelembung dengan si kecil pun kasih sayang.



Jangan terburu-buru mencari kasih sayang, daripada satu asmara ada bermacam kasih sayang lainnya. Kau hanya perlu sadar untuk berada di sini saat ini untuk merasakan kasih sayang itu.

Ini bukan tentang valentine, ini tentang kasih sayang.

Selasa, Desember 20, 2011

Kota Gede Part (I)

Salah satu rumah di daerah Kota Gede yang dibiarkan kosong 
dan tidak terawat.  Entah serius atau bercanda beberapa warga 
yang lewat mengetakan untuk berhati-hati karena rumah 
tersebut angker.  Menurut saya itu sayang sekali sebuah rumah 
hanya ditunggu robohnya. 13-11-2011 Nikon F80, Lucky Asa 200
Sebuah Rumah Kosong 


Apa yang membuat kota gede begitu terkenal? Kerajinan peraknya? Makan raja-rajanya? Sejarahnya? Mungkin itu semua turut membangun popularitas Kota Gede.

Setidaknya di Yogyakarta ada dua kota di dalam kota yaitu Kota Gede dan Kota Baru (apakah dulu ada Kota Kecil dan Kota Lama?Bahas lain kali saja).

Sebagai pusat pemeintahan sejak lama sudah tentu Yogyakarta mengalami sejarah yang panjang, termasuk Kota gede yang pernah menjadi pusat pemerintahan sebelum yang sekarang.

Pintu sisi barat yang terdri dari susunan kaca 
berwarna-warni. Pintunya dibuat seperti di 
Eropa, yang mana terdiri dari pintu sisi luar 
dan dalam. 13-11-2-11 Nikon F80, Lucky aa 200 
Rumah-rumah yang padat menunjukkan bahwa ini dulunya adalah kota. Saya dan mas Ade Putra menyempatkan diri masuk gang bertulisakan JOGLO.....(tanda panah). Kesan pertama adalah rumah-rumah di sana walau sekilas tampak sederhana, karena kebanyakan merupakan bangunan lama, tapi besar-besar, dan walaupun masuk ke gang sempit kebanyakan rumah mempunyai halaman yang luas dengan beraneka tanaman, mungkin untuk memelihara kuda, jadi kemungkinannya merupakan pemukiman mewah pada jamannya.

Salah 1 lorong di Kotagede. 
Nikon F80, Lucky 200.
Sebuah rumah yang cukup besar dibiarkan kosong di sisi timur gang. Rumput di halamannya tinggi dan semrawut, kotoran dari pohon di halaman bertebaran. Mungkin butuh biaya cukup besar untuk melakukan renovasi atau mungkin memang sengaja ditunggu untuk roboh.

Demikian sekilas perjalanan di Kotagede. Masih begitu banyak cagar budaya yang menunggu ditelusuri. Bahkan ini anya sekelumit kecil dari Kotagede.

Kamis, Desember 08, 2011

Belajar dari Bayi Sapi

Sapi yang baru lahir dan Induknya.
 Nikon F 80 Lucky Asa 200.

Salah satu orang yang punya sapi di daerah Istimewa Yogyakarta ini adalah Pak Muchsin. Bapak saya.

Tanggal 11 September 2011 lalu lahir bayi betina dari seekor induk yang sudah cukup tua dari hasil inseminasi suntik. Saya tidak tahu apakah sapi juga bisa orgasme seperti manusia.  Kalo iya, kasian sekali ia, tak mungkin orgasme dengan suntik inseminasi. 

Untuk ke sekian kalinya kami sekeluarga memikirkan sebuah nama untuk bayi tersebut. Memang tidak seperti memkirkan nama untuk anak manusia tapi bayi ini juga perlu nama. Hingga saat kutinggalkan  bapak dan ibu belum menyepakatinya. Dia butuh nama yang mudah disebut bagi lidah jawa, juga menjadikan ingat tanggal lahirnya. Maklum ia tak punya akta kelahiran. 

Bayi tersebut mencoba berdiri.
Nikon F80 Lucky 200.
Sepengamatan saya binatang-binatang menjadi lebih agresif kitika memiliki bayi, menjadi mudah melotot kepada para pendatang asing, termasuk saya. Mungkin keadaan hormonnya meningkat menjadi lebih mudah emosi (Kayak orang PMS). Induknya segera menjilati lendir yang menempel di tubuh bayinya. Ini juga aksi protektif. Karena pada hakikatnya sapi hidup di alam liar, adanya darah akan mengundang predator seperti macan atau singa.

Seperti lazimnya binatang mamae, kelenjar
susunnya penuh saat memiliki bayi
Nikon F 80. Lucky Asa 200.
Bayi mungil itu segera berusaha untuk berjalan setelah beberapa saat keluar dari rahim induknya. Ia mencoba berdiri lalu jatuh, berusaha berdiri lagi, makin lama ia berdiri lalu jatuh lagi, kemudian ia mulai berjalan lalu terjatuh lagi. Seolah ia tak peduli berapa kali ia jatuh hasrat untuk bisa berjalan lebih tinggi daripada memikirkan berapa kali ia jatuh. Mungkin karena ia tak mengenal kata ’gagal’ maka ia tak pernah lelah mencoba. Itulah yang membuat saya betah berada di kandang selama beberapa waktu. Mengamati si bayi yang berusaha berjalan.

Sepertinya saya memang mesti belajar dari bayi sapi yang terus berusaha untuk bangkit, berjalan, lalu berlari tak mengenal kata gagal meskipun kata itu memang ada. Juga tidak berasalan bahwa ia masih lemah, bahwa ia hanyalah bayi. Hanya naluri yang terus menuntunnya untuk melakukan apa yang mesti dia lakukan. Sendainya ia  menyerah pada percobaan pertama maka ia tak akan tau menyenangkannya bisa bangkit.

Ya, bayi-bayi tidak mengelah terlalu banyak istilah seperti menyerah, gagal, kompromi, berdalih, cacat bahkan kata-kata itu tidak ada dalam nalurinya. Mengenal banyak kata membantu seseorang mendapat ungkapan yang tepat dari berbagai keadaan sekaligus membuatnya takut karena seringkali itu berlebihan.

Sabtu, November 26, 2011

Festival Layang-Layang 2011 Parangkusumo

Layang-layang berbetuk naga menggeliat sebelum
berhasil diterbangkan.
Festival layang-layangnya sendiri udah hampir dua bulan lewat tapi film bari selesai di scan kemarin. Maka hari ini mari posting.

Festival layang-layang ini merupakan yang ke dua di DIY untuk tahun 2011 setelah yang pertama di pantai Glagah Kulonprogo sekitar petengahan tahun lalu, dan yang kedua ini di pantai parangkusumo Bantul.

Salah satu layang-layang kantong. 
Dibandingkan dengan yang di Parangkusumo festival pertama tampak terkonsep lebih matang. Jauh-jauh hari promosi sudah dilakukan, sehingga para penggemar layang-layang sudah bisa mendapat jadwal. Alhasil jumlah pengunjungnya pun membludak. Sedangkan yang di pantai Parangkusumo promosinya agak terlambat. Selain itu pemilihan tanggalnya juga kurang memperhitungkan jadwal liburan.Dampak terlihat dari jumlah penonton yang kalah jauh dibandingkan dengan saat di Glagah.

Layangan 3D berbentuk ikan mas koi.
Kabar awal festival akan dilaksanakan segera setalah idul fitri mengingat ini merupakan salah satu progran dinas pariwisata. Kenyataannya festival baru dilaksanakan hampir 1,5 bulan setelah puasa, sehingga wisatawan yang mudik sudah kembali lagi bekerja dan musim libur anak sekolah belum tiba.

Saat kami datang festival layang-layang 3D baru saja digelar beberapa masih dibiarkan melayang. Salah satunya adalah layangan gerobak ronde. Selanjutnya digelar adalah layangan kantong. 

Awalnya saya pikir layang-layang kantong itu diisi udara dari bawah kemudian diterbangkan ternyata layang tersebut akan terisi angin dengan sendirinya saat diterbangkan.

Crew membentangkan layangan sebelum diterbangkan.
Layangan terakhir yang dilombakan adalah layangan kereta atau rangkaian. Panjang bisa mencapai puluhan meter bahkan ratus jika si empunya mau membuat. Menerbangkannya butuh angin yang lumayan kencang serta beberapa orang untuk menarik, karena panjang dan beratnya.
Layang-layang yang nyaris saling melilit.

Sangat disayangkan pada festival kali ini tidak ada battle, dan festival berakhir dengan penyerahan piala kepada pemenang.


Semua gambar diambil dengan NIkon F80 Lucky 200.



Jumat, November 04, 2011

3 Agustus 2011, Kebun Buah Mangunan

Dari puncak Kebun Buah Mangunan Tampak Sungai Oya
 membelah perbukitan (Sony Ericson T700)

Tiga Agustus 2011, masalah yang sama sekali tidak elegan itu masih mengekor di pikiran. But, holydays are never end.

Kali ini perjalanan dimulai pukul 14.30, menuju arah Imogiri, bukan makan Raja-raja Mataram, hari sudah terlalu sore untuk berkunjung ke makam yang belum pernah kami datangi. Av dan kali ini dengan Uci menuju kebun Buah Mangunan.

Perjalanan cukup jauh, berliku dan banyak tanjakan. Semakin jauh dari kota jogja udara semakin dingin. Semakin sore dan daerah yang dituju pun semakin tinggi.

Prilaku Vandal Pengunjung (sony Ericsson T700)
Tiba juga di kebun buah tersebut pada pukul 16.00. Tiket masuk Rp. 5000. ‘Bayar 1 aja mbak solanya udah sore.’ Yeah. Beruntung lagi.

Buah yang ada hanya jambu air, sepertinya datang di musim yang salam. Langsung saja tancap gas menuju puncak. Dari sana pengunjung bisa liat aliran sungai Oya yang membelah perbukitan dengan airnya yang berwarna hijau karena banyak lumut, serta pemukiman penduduk yang berada di dekat tepian aliran sungai.

Mentari bersinar lembut dan angin tak henti menderu mengacak rambut dan menggoyang pepohonan. Perjalanan yang menyenangkan membuat lupa akan rasa lapar. Hari ke-3 puasa saat itu. Puas meikmati pemandangan sungai dan perbukitan perjalanan lanjut ke arah kecamatan Dlingo. Jika jalurnya benar akan sampai di Jalan Wonosari-Jogja.

Tak seberapa lama kami menemukan jalan yang redup oleh tanaman pinus (atau cemara ya, Av ga tau bedanya) sehingga hari terasa lebih cepat gelap. Sinar matahari tak terlalu tangguh menembus celah popohonan yang nyaris rapat.

Tempat yang teduh dan damai tak salah jika ada pasangan yang sedang foto preweding, mungkin temanya back to nature, tapi koq kostumnya maliakat putih bersayap yah, atau temanya pesta kostum? Tidak tahu juga. Akhirnya sampai juga di Dlingo, di lereng bukit yang menghadap barat. Menyempatkan diri menyaksikan terbenamnya matahari dengan anak-anak setempat yang tidak berpuasa.

Setelah matahari terbenam perjalanan kami lanjutkan menuju jalan,  dan masih di kecamatan Dlingo kami menemukan bukit tempat menonton lampu-lampu Jogja dalam area yang lebih luas daripada bukit bintang. Uyehhh.

Tanpa mampir ke bukit bintang Alun-alun selatan menjadi tujuan selanjutnya untuk makan malam.

Itulah 3 Agustusku, bagaimana 3 Agustusmu? :P

Rabu, Juni 08, 2011

Karnaval SCTV 2011


Hari minggu yang cerah jalan-jalan ke nol kilometer dengan Uchan yang ‘ilgu’ kadang bikin ilfil tapi lugu dan lucu -dan kalo ga tahan bikin malu. but it's OK. she is nice girl.



Bosan di Nol kilometer kami jalan ke alun-alun utara buat nonton stand-stand yang ada di karnaval SCTV. Ada banyak seh, tapi mesti selektif karena budget limit. yang menjadi pilihan adalah, panahan, freestyle dari team Yamaha, velochity, dan stand band. Panahan gagal total, mata ma tangan ga sinkron. setelah itu nonton free stylenanya team Yamaha. Kayakna asik, tapi takut. Games selanjutnya adalah velocity. Peserta diiket di sebuah kerangka besi yang bisa berputar mekanis, lalu diputar-putar. dijamin mual, dan pusing (tapi Av tidak).



Bosan muterin stand Av n Uchan ke depan panggung nonton check sound band yang lagi perform.Av sedang ngambil gambar vokalisnya ….-band apa yak ga inget, yang bentuknya kek gitu vokalisnya siapa :P)- dengan has‘pi (my cell phone)saat seorang wanita perlahan menyandarkan kepala di bahu kiri dan berbicara dengan mesra, “Ambil gambarnya pake kamera yang itu donk,” sambil menunjuk Nikon F80 yang menempel di dada eh…bawah dada.

 

“Hah…,” sejenak speechless. “Udah koq tenang aja,” dan akhirnya Av menjawab tidak kalah mesranya.
Setelah itu ia mengangkat kepala dan kembali jingkrak-jingkrak dengan hebohnya. Baru sadar kalo ternyata dia satu diantara gadis-gadis histeris yang turut bernyanyi dengan sangat menjiwai dan diselingi teriakan ‘I love U’ di akhir lagu. Baru beberapa saat mengambil kesimpulan bahwa dia adalah ABG-labil pula- seorang  cowok kecil berusia sekitar 3 tahun menghampirinya, menggelondot di kakinya , dan sambil mendongak cowok itu berkat,a “Ayo pulang Bu.” Menuntaskan satu lagu dan sisa teriakan ‘I love U’ nya ia pun berlalu.




Semakin petang semakin ramai ajah. Dari yang berpasangan hingga bergerombolan. Jangan salahkan bila saya menikmati lebih menikmati penonton daripada tontonanannya. :P

Sendiri Lagi di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2011


Seperti tahun-tahun sebelumnya Pekan budaya Tionghoa Yogyakarta deigelar di daerah Ketandan. Tahun 2011 ini dilakasanakan tanggal 13-17 Februari.

Av cuma datang pada hari terakhir yaitu tanggal 17 Februari. Berbagai masakan china tersedia di sini –biarpun ga mampu beli-. Masih sempat menyaksikan pagelaran wayang Poo Thay Hie. Av berdiri di belakang anak-anak yang duduk di kursi menonton wayang kecil itu.

Jangan bayangkan wayang ini seperti pagelaran wayang kulit atau wayang boneka yang besar apalagi membayangkan wayang orang. Wayang Poo Thay Hie adalah wayang boneka tangan. Maininnya adalah dengan memasukkan tangan ke dalam boneka tersebut kemudian memainkan boneka sesuai dengan perannya. Jangan coba-coba mengingat wajah bonekanya, cukup perhatiin kostumnya. ‘Coz itu boneka ga ganti-ganti kostum koq. Kalau kostumnya beda berarti perannya juga beda.

Boneka-boneka tersebut keluar secara bergantian di panggung yang berbentuk rumah-rumahan dalam ukuran kecil, sang dalang, asistennya, dan kru music berada di balik tirai panggung. Selama pagelaran wajah sang dalang tertutup tirai sedangkan tangannya terus memainkan boneka dan mulutnya mengucapkan dialog wayangnya –jadi mereka ga perlu repot-repot dandan pakai kain, beskap, dan blangkon apalagi di make-up. 

Kru music memainkan music latar sesuai cerita. Av ga tau mereka pake skrip cerita atau tidak seperti OVJ.
Bahasa yang dipakai adalah campuran Jawa, Indonesia, dan Mandarin dialek Hokkian, sungguh rumit tapi cukup dalangnya aja yang ngrasain  –mereka hafal dialog atau pake running teks, av jg ga tau heheh. Jangan heran, dalang wayang ini sepertinya bukan keturunan China –tidak tau juga kalo ternyata hitachi, alias hitam tapi China, pokoknya banyak yang av ga tau-- , sama saja dengan Barongsai yang memainkkan bukan hanya keturunan China atau gamelan yang tidak hanya ditabuh oleh orang Jawa. Pokoknya pekan budaya Tionghoa ini untuk semua. Oh iya perangkat musiknya ga ada gamelannya, Av sempat ke belakang panggung tempat perangkat musik pengiring dimainkan dan lagi-lagi ga tau nama-namanya.


Seneng banget bisa nonton, biarpun cuma sendiri. Celingak celinguk ga ada yang kenal. Ya sudah, menyibukkan diri dengan pikiran sendiri. Tidak lupa dalam hati mengomentari para penjaga perdamaian yang memakai seragam ala pasukan khusus. Lengkap dengan sarung senjata, kacamata hitam, serta gelas kopinya.
Eh belum mudeng apa ceritanya wayangnya udah bubaran. Mau tanya dalangnya –seperti biasa dengan memasang wajah bodoh, atau lebih halusnya lemot-- ceritanya tentang apa  ga tega ma dalangnya. Wajahnya dah kliatan capek banget, apalagi kalo masih mesti menghadapi kebodohan Av. Selamat tinggal cerita wayang.

Karena tahun ini tahun kelinci di pintu masuk pengunjung di sambut oleh dua ekor kelinci besar-besar, di depan panggung pentas juga ada dua ekor kelinci besar-besar persembahan dari perusahaan kacang, semua kelinci tersebut ga berdasi, jadi tak perlu kawatir akan di grebeg FPI.