Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 14, 2011

Review Dangkal Opening 6th JAFF

Individual life sebagai pembuka JAFF ke-6
Setelah susah payah dan kegagalan nyaris depan mata akhirnya bisa masuk gedung societed taman budaya Yogyakarta melalui (sekaligus bersama) seorang teman percetakan. Opening Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) sukses disatroni, Individual Life sebagai band pembukan mulus didengarkan, dan film dari Iran The Green Wave sukses menambah wawasan kebangsaan. Malam yang hebat bersama JAFF.

JAFF ke-6 yang mengambil tema 'Multitude' ini dari MC nya sekilas terdengar untuk melawan kapitalisme global. Saat melihat sponsornya 'Bakti Budaya Djarum foundation', timbul pertanyaan tidak bertentangankah ini? Setelah membaca sambutan dari petinggi-petinggi JAFF terbersit sedikit pengertian mengapa itu tidak perlu kontroversial.

Sebagai komunitas independen yang diharuskan mencari penghidupan sendiri memang sudah semestinya sebisa mungkin berpolah untuk dapat bertahan. Toh lembaga-lembaga pemerintah yang ada sibuk mencari eksistensinya sendiri.

Kepedulian orang-orang yang ada dibalik ini semua sangat patut diapresiasi, ini bukan semata-mata sebuah hiburan tapi lebih sebuah proses edukasi tanpa harus menggurui. Para peserta didiknya bebas menafsirkan dan menginterpretasikan materi yang didapat.

The Green Wave sendiri merupakan representasi keadaan di berbagai belahan dunia, yang mana Indonesia sendiri pernah mengalami. Darah rakyat berceceran di mana-mana tetapi yang dikhawatirkan negara-negara Eropa hanyalah isu pengayaan Nuklir, sesuatu yang membuat mereka ikut merasa terancam sedangkan kebebasan yang dibredel, nyawa-nyawa yang menjadi korban terdengar semacam dongeng dari negeri yang jauh. Angka orang-orang yang cacat permanen, kematian, dan penculikan atas keganasan penguasa begitu kaku dan angkuh untuk bisa menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan penguasa. Film semacam ini bisa menjadi jawabannya.

Sebagai seorang awam yang menilai film secara subjektif sekedar 'saya menikmati atau tidak' -karena katanya seni tidak ada yang tinggi ataupun rendah- saya selalu gagap saat terdengar narasi yang berbahasa Inggris tidak disertai subtitle. Mungkin itu pula yang menyebabkan pria di sebelah kiri tertidur dan di sebelah kanan berciuman. ahh...mungkin juga ini cuma buruk sangka pada orang di sebalh saya semalam.

Quote Albert Einstein berbisik nyaring di perjalanan pulang selepas dari taman budaya, “Dunia ini adalah tempat yang berbahaya untuk ditinggali, bukan karena banyaknya kriminalitas yang terjadi, tetapi karena lebih banyak orang yang membiarkan kejahatan terjadi.”

Terima kasih kawan-kawan JAFF untuk sumbangsihnya dan inspirasinya. Semoga kalian mau berkawan dengan saya yang tak mengerti tentang film ini.

Minggu, Juni 13, 2010

The Fall


Yups...bis nonon film The Fall yang diperanin Lee Pace. Jadi tersadar betapa rapuhnya kehidupan.....dan terkadang ingin mati saja.

Nyaris tiap denger orang bunuh diri karena putus cinta orang-oarang malah ngakak-ngakak bilang dia bego, tolol, dan sejenisnya. mungkin emang dimikian, tapi sebelum ketawa ngakak kenapa ga liat dulu esensinya. kenapa sampe pada keputusan bunuh diri. padahal tanpa bunuh diri pun sebenernya banyak orang yang sebelumnya dah mati jiwanya. tubuhnya masih bernafas tapi tidak ruhnya. bahkan termasuk yang ngakak2 itu sendiri.

"Hati manusia sebenrnya pengecut makanya gampang banget dikelabuhi," tu penggalan dialog dari film 3 idiot. mungkin ja bener. Selalu ada ketakutan buat hidup sendiri, takut mengalami rasa sakit, dan takut lain-lain. Atau mungkin sebenernya kita sering melekatkan arti hidup kita pada seseorang, pada suatu profesi atau hobi, atau pada suatu keadaan misalnya kecantikan atau kekayaan, jadi ketika kita kehilangan semuanya hidup seolah tak berarti lagi. Tak ada yang bisa dilanjutkan tapi terlalu mengerikan -atau mungkin terlalu enggan- untuk memulai kembali. Ya....ya....ya.....The Fall.

Semua mempertanyakan darimana kita berasal, kenapa kita di sini, kemana kita pergi setelah mati (terjemahan sepenggal lirik lagu Dream Theater, The Spirit Caries On). Mengapa hidup penuh dengan rasa sakit, dan kejatuhan. Hingga Soe Hok gie begitu tergila-gila naik gunung, hanya untuk mengerti the secret of making, rahasia dari penciptaan. Apakah hingga akhir hayatnya ia mengerti, I don't even know. Setidaknya dalam hidupnya ia pernah mengalami kepasan, dia pernah berjuang dengan keras hatinya, pernah dipuja-dipuja kerena keteguhan dan keberaniannya, ia pun pernah ditolak dan diasingkan. Hingga ia mati sebagai serigala yang gelisah.

Jadi masih mau ngakak-ngakak denger berita orang mati bunuh diri karena outus cinta????? Bagi saya cinta bukanlah alasan yang konyol untuk mati, tapi ketakutan buat hidup sendiri dan terpisah dan ditolak itulah yang konyol. Tak ada hidup tanpa kesepian, tanpa penolakan, tanpa pengalaman keterasingan. Meski seringkali kita menghadapi hal-hal yang tak terduga tapi tidak segala hal berada di luar jangkauan, kita selalu punya kontrol internal yaitu pilihan. Menjalani pilihan itu mungkin suatu saat akan merasakan hal yang menyakitnkan, mungkin juga mengecewakan tapi akhirnya kita akan bisa berkata bahwa 'inilah pilihanku'. namun katika kau takut memilih atau memilih tapi tak menghasrati dan mencintai pilihan itu selamanya akan terombang-ambing dan akhirnya hidup dalam ketidakpuasan.



Senin, Oktober 12, 2009

Cinta Bersemi di Ladang Pembantaian



“Dunia ini adalah tempat yang berbahaya untuk ditinggali, bukan karena banyaknya kriminalitas yang terjadi, tetapi karena lebih banyak orang yang membiarkan kejahatan terjadi….”(Albert Einstein )


Kisah ini dimulai oleh kehadiran dr. Ang Swee sebagai seorang kristen fundamentalis. Awalnya Chai mendukung Israel, selain karena lingkungan keagamaanya mendorongnya demikian, media internasional mengesankan orang arab sebagai teroris. Akan tetapi serangan brutal Israel ke Beirut mendorongnya menjadi sukarelawan ahli bedah di kamp pengungsi Palestina dan membuatnya sadar akan kekeliruannya tersebut.

Pengusiran warga palestina dari negaranya sendiri oleh Israel telah terjadi pada tahun 1948. Mereka berlarian ke seluruh dunia dan yang tetap bertahan mendapat siksaan tak terperikan. Namun setelah beberapa dasarwarsa Israel menduduki tanah palestina dan mengganti namanya menjadi Israel yang mereka klaim sebagi ‘tanah yang dijanjikan Tuhan’ warga palestina yang berada di pengasingan tetap tak bisa tenang, serangkaian penculikan, pembunuhan, bahkan pembantaian masih terjadi hingga kini. Kamp-kamp pengungsi palestina biasa menjadi ladang uji coba sekaligus praktek senjata-senjata pemusnah paling mutakhir.

Dr. Ang adalah saksi hidup dari pembantaian Sabra-Sathila yang terjadi hanya sebulan, setelah ia tinggal dan bertugas di kamp tersebut. Saat itu perdamaian mulai didengungkan kembali, para penduduk menyerahkan senjata yang mereka miliki dan mulai membangun rumah-rumah mereka yang hancur, sehingga pembantaian terjadi tanpa perlawanan sama sekali. Dalam waktu kurang dari sepekan lebih dari 2400 jiwa melayang, dan sebagian besar bangunan musnah oleh berbagai peledak. Serangan tersebut hampir seluruhnya mengenai warga sipil. Setalah pembantain besar-besaran dilakukan, bangunan-bangunan yang masih berdiri diratakan dengan buldoser dan laki-laki dewasa yang selamat diculik dan tidak diketahui lagi nasibnya.

Palestina saat ini adalah salah satu contoh ladang pembantaian pasca perang dunia II. Gambaran dari suatu bangsa yang selama beberapa dekade sejak tahun 1948 tidak dianggap ada dan coba dimusnahkan, namun akhirnya membuktikan eksistensinya, walupun dengan pengorbanan yang besar. Sebuah eksistensi yang dibangun dengan pengorbanan puluhan, bahkan ratusan ribu nyawa, dibangun di atas kekhawatiran dan kesedihan para orang tua yang mau tidak mau harus melahirkan anak-anak mereka dalam penderitaan, demi mewariskan tongkat perjuangan dari para pendahulunya.

Buku ini bukan berisi filosofi tentang cinta, tapi hanya membeberkan fakta-fakta untuk kita nilai dan kita telaah sendiri. Tulisan ini berisi kisah pengabdian dr. Ang Swee Chai selama menjadi relawan di kamp pengungsian Palestina dan usahanya dalam membantu mereka selama 6 tahun, dari 1982-1988. Sebuah kesaksian yang sangat personal tetang pembantaian manusia yang benar-benar mengiris hati. Caranya menggambarkan menjadikan peristiwa tersebut seolah-olah baru terjadi kemarin. Tentang orang-orang yang terbuang dari tanah airnya tanpa harapan bisa kembali. Tentang tangisan dan jeritan pengungsi Palestina untuk bisa hidup damai dan kembali ke tanah airnya. Semburat harapan untuk dapat berkumpul kembali dengan keluarga yang masih tersisa setelah bercerai-berai selama puluhan tahun.

Sebuah fakta dari relawan yang ada di sana, membuktikan bahwa seseorang tidak harus mejadi seorang muslim, nasrani, hindu, atau bahkan atheis untuk dapat melihat kebenaran, dibawah tekanan pers barat yang seakan menghalangi pemberitaan tentang fakta-fakta pembantaian di timur tengah. Mereka hanya menjadi manusia dan membuka mata dan hatinya untuk mengetahui kebenaran.

Betapa pun besar arti pers dalam menyiarkan berita ke seluruh dunia, namun kemampuannya dalam membentuk opini publik telah dimanfaatkan oleh tangan-tangan yang berkuasa atas modal dan pengaruh, sehingga menempatkan suatu pihak – dalam hal ini bangsa Palestina – pada posisi terpojok dan menjadi korban ketidakadilan yang besar. Pers telah membantu menyiarkan kabar tentang pembantaian yang berlangsung di seluruh dunia, namun pers lebih banyak menyembunyikan. Dalam hal ini pers telah membentuk opini publik selama bertahun-tahun terhadap terciptanya sentimen terhadap orang-orang Arab. Sehingga seolah-olah mereka semua adalah pembuat onar yang tidak pantas untuk ditolong.

Sejak tahun 1982 telah dibentuk komisi untuk mengadili tindakan Israel terhadap para pengungsi tersebut, namun hingga kini tidak ada hasilnya. Bahkan serangan mereka yang secara gamblang melanggar konvensi jenewa, tidak mendapat pengadilan yang selayaknya. Benteng dari negara-negara adikuasa dapat meloloskan Israel dari tuduhan sebagai penjahat perang, sekaligus menjadi penyebab terus berlangsungnya konflik di timur tengah, karena ketidakkonsistenan mereka dalam memperjuangkan perdamaian.

Seharusnya bangsa Indonesia belajar dari orang-orang Palestina dan mulai membenahi diri sebelum akhirnya bangsa ini benar-benar dikuasai dan dimiliki oleh bangsa lain, sebelum kita menjadi orang yang numpang di negeri sendiri. Sebelum orang-orang di negeri ini menjadi seperti mereka, yang beridentitaskan kartu-kartu pengungsi namun tak diizinkan untuk kembali. Seharusnya kita belajar melalui mereka yang selalu belajar dari kesalahan, mereka yang terbuang dan terkatung-katung tanpa adanya sebuah institusi yang melindungi mereka yang disebut negara.

Pernah diterbitkan di Majalah Cakrawala Edisi XV.