Tampilkan postingan dengan label jarang-jarang kayak gini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jarang-jarang kayak gini. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 23, 2012

Menerobos Malam demi Sunrise Puncak Suroloyo

Matahari perlahan muncul dari balik perbukitan.
Apalagi tujuannya kalau bukan mengejar sunrise. Kali ini lokasi perburuan kami adalah tempat yang katanya adalah salah satu titik sunrise terbaik di Yogyakarta, Puncak Suroloyo. Untuk ke sini saat matahari terbit memang butuh perjuangan terlebih kami belum tahu jalurnya.

Lokasinya yang agak jauh di luar kota Yogya, yaitu di kecamatan Samigaluh, kabupaten Kulonprogo, membuat saya dan Putri terjaga jam 3 pagi dan memulai perjalanan sekitar pukul 3.30. Malam sebelumnya sedapatnya saya mencari rute dan alamatnya untuk dilalui, juga jadwal matahari terbit.

Cahaya matahari membentuk siluet di Puncak Suroloyo.

Setelah sekitar dua jam perjalanan, seharusnya tidak selama itu karena sepertinya kami jalan memutar sekaligus menjumpai jalan menanjak dengan aspal keropos dan lubang di sana sini, sekitar pukul 05.39 kami tiba di parkiran puncak Suroloyo. Lalu dengan terengah kami berlari menaiki tangga yang sepertinya tak habis-habis, kami harus berlari demi menyaksikan kemunculan pertama matahari hari itu karena sunrise diperkirakan sekitar pukul 05.41. Benarlah apa kata google,  saat kami tiba di puncak berkas sinar matahari kuning telah  mulai menyorot langit.
Putri berpose untuk kenang-kenangan perjalanan kami.
Terpesona dengan kejaiban alam kami terdiam sambil mengulum senyum. Tak sia-sia kami menyempatkan diri, gogling, bangun dini hari, mengestimasi waktu perjalanan, berlari menaiki ratusan anak tangga, semuanya dengan sendirinya terbayar oleh kebahagiaan luar biasa bisa menyaksikan semua keindahan ini.

Alam begitu menghipnotis kami. Matahari mulai menghatkan bumi, semburat warna kuningnya sangat megah, dan awan pun perlahan menyingkir dari puncak-puncak perbukitan, berada lebih rendah dari tempat kaki kami berpijak. Jadilah kami di ketinggian sekitar 1000mdpl tapi serasa diatas awan.

Sambil minum susu saya mulai melakukan kebiasaan buruk, berharap seseorang itu ada di sini, saling tersenyum dan sama-sama bahagia menyaksikan semua ini, (red; orang yang hanya bisa dibahagiakan dengan keindahan alam). Harapan semacam itu selalu bisa merusak pemandangan dan moment seindah apapun. Membuatku selalu merasa kurang, atau malah mencari-cari kekurangan? Keindahan alam yang hanya beberapa menit itu akhirnya tercemar oleh pikiran negatif. 

Saya menuruni tangga saat matahri mulai tinggi.
Setelah matahari telah agak tinggi kami memutuskan untuk turun. Beberapa pengunjung lain pun berdatangan, tapi tak ada yang lebih pagi dari kami. Saat turun kami masih bingung dengan rute yang kami lewati, 3 kali memutar jalan yang sama dan satu kali terjebak di jalan buntu. Kadang kebodohan diri memang mesti diakui dan dimaklumi, kami memang lemah dalam kemampuan ekolokasi. Sambil cekikikan kami menyaksikan seorang kakek di depan rumah yang terlihat bingung seolah baru saja mengalami de javu saat kami melintas di hadapannya untuk yang ke 3 kalinya.

Terlalu mubazir rasanya kalau langsung pulang, perjalanan pun kami lanjutkan ke gua kieskendo, karena perjalanan lanjutan ini tanpa management kami mengandalkal plank yang dipasang oleh dinas lalu lintas dan GPS (Gunakan Penduduk Setempat).



Rabu, Oktober 24, 2012

Nicolai Sergeevic Varfolomeyeff


Apa yang di dapatkan orang ketika ke kuburan? Nisan? Bunga kamboja? Rumput ilalang? Hal yang baru belakangan saya sadari mengenai kuburan adalah adanya nilai intrinsik yang cukup tinggi yaitu sejarah.

Sejarah yang saya dapatkan di kuburan itu tentu saja mesti saya gali lebih jauh, bukan di kuburannya tentu saja. Bahkan saat ke kuburan itu pun niat saya juga menelusuri sejarah.

Saat itu saya lagi seneng baca teori konpirasi tentang freemasonri di Indonesia, spesifiknya Yogya. Mencari-cari kuburan belanda niatnya juga mencari lambang-lambang mereka setelah dapat kuburannya ternyata tak dapat lambangnya tapi malah dapat yang lain salah satunya si Nicolai Sergevic Varfolomeyeff itu.

Satu-satunya bintang daud di Sasanalaya
Kuburan belanada adalah yang kini menjadi Tempat pemakaman umum Sasanalaya. Saya temukan juru kuncinya amat ramah, saya lupa namanya. Beliau menceritakan bagaimana rupa pekuburan tersebut di masa lalu, luas wilayahnya juga mengantar saya berkeliling, menunjukkan kuburan-kuburan beberapa orang penting di masa lalu, kebanyakan nama-nama yang belum pernah saya dengar. Meskipun menghadapi ketidaktahuan saya beliau tetap bercerita sambil berjalan.

Nama yang tak saya lupakan di nisan itu adalah Nicolai Sergeevic Farfolomeyev yang disebut juru kunci sebagai salah satu guru musikus terkenal Idris Sardi, meskipun bukan hanya Idris Sardi yang menimba ilmu padanya. Nisannya telah ambrol karena gempa Yogya 2006, namun pahatan namanya di nisan itu masih cukup jelas.

Tertarik pada nama yang bikin lidah kepleset itu saya kemudian mencarinya di internet. Nicolai memang benar salah satu guru musik Idris Sardi sewaktu di Yogya yang berasal dari rusia. Koran-koran Belanda pada tahun 1930an pun menunjukkan adanya iklan tentang acara musiknya di radio bersama Foormans Orkestra dengan pimpinan orkestra Julius Fuhrmann, musiknya diperdengarkan di radio Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Salah satu karyanya yang cukup terkenal hingga kini adalah pada lagu nyiur hijau ciptaan Maladi. Nicolai juga menjadi salah satu musikus dalam peringatan 11 tahun kematian Cornel Simanjuntak pada tahun 1968.

Kuburan yang separuh terpendam di Sasanalaya.
Sejauh ini hanya itu informasi yang saya dapat mengenai dirinya. Selain kesan bahwa ia adalah orang asing yang mati di rantau. Saat kebanyakan pendatang Eropa angkat kaki dari Indonesia pada masa kemerdekaan ia tetap tinggal dan melanjutnya karir bermusiknya di sini hingga meninggal.

Saya merasa bahwa saya menggalinya terlalu personal. Ya, sejarah pun bisa dipersonalisasi. :D

Sumber :

Selasa, Desember 20, 2011

Kota Gede Part (I)

Salah satu rumah di daerah Kota Gede yang dibiarkan kosong 
dan tidak terawat.  Entah serius atau bercanda beberapa warga 
yang lewat mengetakan untuk berhati-hati karena rumah 
tersebut angker.  Menurut saya itu sayang sekali sebuah rumah 
hanya ditunggu robohnya. 13-11-2011 Nikon F80, Lucky Asa 200
Sebuah Rumah Kosong 


Apa yang membuat kota gede begitu terkenal? Kerajinan peraknya? Makan raja-rajanya? Sejarahnya? Mungkin itu semua turut membangun popularitas Kota Gede.

Setidaknya di Yogyakarta ada dua kota di dalam kota yaitu Kota Gede dan Kota Baru (apakah dulu ada Kota Kecil dan Kota Lama?Bahas lain kali saja).

Sebagai pusat pemeintahan sejak lama sudah tentu Yogyakarta mengalami sejarah yang panjang, termasuk Kota gede yang pernah menjadi pusat pemerintahan sebelum yang sekarang.

Pintu sisi barat yang terdri dari susunan kaca 
berwarna-warni. Pintunya dibuat seperti di 
Eropa, yang mana terdiri dari pintu sisi luar 
dan dalam. 13-11-2-11 Nikon F80, Lucky aa 200 
Rumah-rumah yang padat menunjukkan bahwa ini dulunya adalah kota. Saya dan mas Ade Putra menyempatkan diri masuk gang bertulisakan JOGLO.....(tanda panah). Kesan pertama adalah rumah-rumah di sana walau sekilas tampak sederhana, karena kebanyakan merupakan bangunan lama, tapi besar-besar, dan walaupun masuk ke gang sempit kebanyakan rumah mempunyai halaman yang luas dengan beraneka tanaman, mungkin untuk memelihara kuda, jadi kemungkinannya merupakan pemukiman mewah pada jamannya.

Salah 1 lorong di Kotagede. 
Nikon F80, Lucky 200.
Sebuah rumah yang cukup besar dibiarkan kosong di sisi timur gang. Rumput di halamannya tinggi dan semrawut, kotoran dari pohon di halaman bertebaran. Mungkin butuh biaya cukup besar untuk melakukan renovasi atau mungkin memang sengaja ditunggu untuk roboh.

Demikian sekilas perjalanan di Kotagede. Masih begitu banyak cagar budaya yang menunggu ditelusuri. Bahkan ini anya sekelumit kecil dari Kotagede.

Kamis, Desember 08, 2011

Belajar dari Bayi Sapi

Sapi yang baru lahir dan Induknya.
 Nikon F 80 Lucky Asa 200.

Salah satu orang yang punya sapi di daerah Istimewa Yogyakarta ini adalah Pak Muchsin. Bapak saya.

Tanggal 11 September 2011 lalu lahir bayi betina dari seekor induk yang sudah cukup tua dari hasil inseminasi suntik. Saya tidak tahu apakah sapi juga bisa orgasme seperti manusia.  Kalo iya, kasian sekali ia, tak mungkin orgasme dengan suntik inseminasi. 

Untuk ke sekian kalinya kami sekeluarga memikirkan sebuah nama untuk bayi tersebut. Memang tidak seperti memkirkan nama untuk anak manusia tapi bayi ini juga perlu nama. Hingga saat kutinggalkan  bapak dan ibu belum menyepakatinya. Dia butuh nama yang mudah disebut bagi lidah jawa, juga menjadikan ingat tanggal lahirnya. Maklum ia tak punya akta kelahiran. 

Bayi tersebut mencoba berdiri.
Nikon F80 Lucky 200.
Sepengamatan saya binatang-binatang menjadi lebih agresif kitika memiliki bayi, menjadi mudah melotot kepada para pendatang asing, termasuk saya. Mungkin keadaan hormonnya meningkat menjadi lebih mudah emosi (Kayak orang PMS). Induknya segera menjilati lendir yang menempel di tubuh bayinya. Ini juga aksi protektif. Karena pada hakikatnya sapi hidup di alam liar, adanya darah akan mengundang predator seperti macan atau singa.

Seperti lazimnya binatang mamae, kelenjar
susunnya penuh saat memiliki bayi
Nikon F 80. Lucky Asa 200.
Bayi mungil itu segera berusaha untuk berjalan setelah beberapa saat keluar dari rahim induknya. Ia mencoba berdiri lalu jatuh, berusaha berdiri lagi, makin lama ia berdiri lalu jatuh lagi, kemudian ia mulai berjalan lalu terjatuh lagi. Seolah ia tak peduli berapa kali ia jatuh hasrat untuk bisa berjalan lebih tinggi daripada memikirkan berapa kali ia jatuh. Mungkin karena ia tak mengenal kata ’gagal’ maka ia tak pernah lelah mencoba. Itulah yang membuat saya betah berada di kandang selama beberapa waktu. Mengamati si bayi yang berusaha berjalan.

Sepertinya saya memang mesti belajar dari bayi sapi yang terus berusaha untuk bangkit, berjalan, lalu berlari tak mengenal kata gagal meskipun kata itu memang ada. Juga tidak berasalan bahwa ia masih lemah, bahwa ia hanyalah bayi. Hanya naluri yang terus menuntunnya untuk melakukan apa yang mesti dia lakukan. Sendainya ia  menyerah pada percobaan pertama maka ia tak akan tau menyenangkannya bisa bangkit.

Ya, bayi-bayi tidak mengelah terlalu banyak istilah seperti menyerah, gagal, kompromi, berdalih, cacat bahkan kata-kata itu tidak ada dalam nalurinya. Mengenal banyak kata membantu seseorang mendapat ungkapan yang tepat dari berbagai keadaan sekaligus membuatnya takut karena seringkali itu berlebihan.

Minggu, November 13, 2011

Kondom Artika Milik Pemerintah Tidak untuk Diperjual Belikan

Kondom Artika, milik pemerintah, tidak untuk diperjual belikan. SNI. Itu tulisannya di box dan kardus.

Temen ak ga tanggung jawab banget lempar kondom sembunyi badan. Dia bawa satu kardus besar, di dalem kardus masih ada belasan box, satu box isinya sekitar 240 buah. Expired na tinggal beberapa bulan lagi. Mau dikemanain barang sebanyak itu. Bahkan di bagi-bagiin seluruh anak kampus masih juga sisa.

Tadinya rencana mau aku bikin balon, dirangkai trus jadiin kasur angin, dipake buat pengapung di bendungan deket kos, ternyata bahannya mudah sobek dan pecah. Temen-temen yang udah coba jadiin balon ma isi air cepet pecah. Nah lo, kalo kek gitu kualitasnya ga jadi mengamankan dunds. Apa yang buatan pemerintah selalu KW yah? Ga yang kompor gas, ga LPJ na, bahkan kondom pun juga ga aman.

Daripada mubazir karena expired akhirnya aku tawarin tuh kondom ke sana sini. Ada 1 temen yang mau. Smsan, janjian ma dia.

"1 box 20 rb gmna?"
"Ok. Gpp. ketemu dimana?"
"Sekitar malioboro. Tepatnya dimana ntar sms lagi."

Celingukan nengok ke jalan raya dari balik jeruji pager kantor pos besar. Baru aja ujan itu juga masih gerimis. Ga lama dia datang.

"Mana barangnya?"
"Neh," nyerahin 1 box kondom di dalam plastik kresek.
"Ada berapa box?"
"3."
"1 box berapa biji?"
"240."
"Heh?"
"Ogah, 1 aja."
"Iya. Belinya satu, kukasih bonus 2 box."
"Heh?"
Bla bla bla....

Akhirnya daptlah 20 ribu dari kondom Artika, milik pemerintah, tidak untuk diperjual belikan itu. Sama temen aku yang beli ternyata kondomnya dibagi-bagikan karena wilayah itu juga beberapa temannya adalah 'pelaku sex beresiko', walau aku juga ga tau adakah sex yang tidak beresiko.

Kamis, Oktober 27, 2011

Kado Hari Blogger

Kawan-kawan blogger dan reader dapat kado apakah hari ini?

Sebagai blogger -yang kurang aktiv tentu saja- aku belum dapat ucapan malah, belum minum kopi pula tapi sudah dapat kado yang tak disangka, penuh makna dan pelajaran. Run time error di pc, hasilnya seluruh koneksi internet macet, berbagai program tidak bekerja. bagaimana memperbaikinya? Tak tahulah, bahkan Av bukan pengguna komputer yang baik, apalagi memperbaikinya.

Aku melalukan hal yang sederhana sebenarnya menyecan dengan antivirus avira, hasilnya mengagumkan sekaligus fatal. Padahal hari ini rencananya aku akan menulis sesuatu yang manis di blog.Sudah tersusun rapi di memori, tapi hilang begitu saja seiring mood yang berantakan bersama virus-virus yang merusak sistem.

Bukan perbuatan yang kelewat sok tahu menurutku, tapi lagi-lagi lancang, toh itu bukan punyaku, tapi mengapa begitu usilnya pikiran dan tindakanku. Sekarang taulah akibatnya. Cukup sudah iseng-iseng dengan barang orang.

Selasa, Oktober 25, 2011

45 Menit Menjadi Sisyphus

Kopi lampung mengepul dan saya siap merangkai kata jadi seperti rel kereta.



Apa rasanya menjadi Sisyphus yang dihukum untuk mengangkat batu ke atas bukit hanya untuk menyaksikan batu tersebut menggelinding kembali ke bawah dan ia harus memindahkan batu itu ke atas bukit lagi dan batu itu akan menggelinding ke bawah lagi, begitu seterunya? Capek, dan jengkel, kalau Av merasanya begitu.

Hukuman itu diberikan kepadanya karena kelicikannya dan keserakahannya. Kejam memang, tapi begitulah suatu perbuatan mesti dipertanggungjawabkan. Itu pula yang terjadi malam Minggu kemarin 22 Oktober 2011. Bukan karena licik tapi salah perhitungan dan itu mesti ditanggung juga kan.

Saat kota Yogyakarta bersiap menyambut Jogja Java Carnival yang gegap gempita Av sedang menunggu motor yang macet. Bensin tidak benar-benar habis sebenarnya, tetapi tangkinya agak menukik ke depan sehingga saat di tanjakan sisa bensin yang tidak terlalu banyak tidak mau masuk ke pipa. Jika jalannya rata motor akan masih berjalan setidaknya 1-2 km, tapi sekalai lagi saya tidak meperhitungkan tanjakannya dan bensin yang tersisa. Maka di sanalah Av di tengah hutan yang membentang 4 km, setelah menyebrangi hujan lebat dari Piyungan hingga kota Wonosari. Lampu penduduk dan lampu SUTET tampak menyala di perbukitan Patuk, sedangkan saya berada di atas bukit yang lain diiringi nyanyian binatang malam, tanpa lighting dan panggung.

SAR keluarga masih belum bisa dihubungi. Sambil terus mencoba harapan mengalir pada mereka yang mungkin lewat, kecil kemungkinan tapi bukan berarti tak ada, tapi kali ini saya wajib memperhitungkan kemungkinan terburuk.

Meninggalkan motor di tepi jalan dan melanjutkan dengan jalan kaki seorang diri untuk memasuki desa terdekat dan mencari bensin bukan pilihan yang bijak kupikir. Truk atau mobil bisa saja lewat sewaktu-waktu, dan itu jelas tidak aman. Motor ini hanya hak pakai.

Mencoba mendorong motor di tanjakan, sambil membayangkan Sisyphus yang memanggul batu ke atas bukit sepertinya pilihan yang seru. Sulit dan berat, tapi bukan berarti tak ada hasil. Otot kaku, kaki lecet-lecet karena kaki terdorong saat menahan beban motor. Proses itu hanya berjalan tak lebih dar 45 menit bagaimana dengan Sisyphus?  Saat berbuat curang apakah dia berpikir dia akan memanggul batu itu hanya untuk melihatnya kembali tergelincir?

Jangan-jangan dia hanya iseng-iseng saja, dia bebuat licik supaya para dewa marah sehingga bisa coba-coba mencurangi para dewa? Atau karena mencurangi manusia sudah terlalu mudah sehingga ia bosan. Toh Sisyphus tetap menerima hukumannya. Entahlah. Kalau ia masih hidup mungkin bisa melakukan tes psikologi, itu pun kalau dia tidak mencurangi tesnya. Untunglah Sisyphus cuma ada dalam dongeng, jadi saya tak perlu berikan tes ataupun wawancara.

Setelah 45 menit mendorong motor di tanjakan dan hasilnya tidak seberapa jauh, akhirnya telepon dijawab. Datanglang rombongan SAR menyelamatkanku dari mendorong motor lebih jauh dan lebih berkeringat lagi. Pak Muchsin dan Shogun hitam muncul membawa logistik, 1 liter bensin. Imaji Sisyphus mungkin berpindah dari kepalaku ke Sophie a.k.a Jupiter Biru karena dia mesti menanggung seluruh berat badanku mendaki perbukitan dengan jalan cor dan esoknya mesti kembali menuruni bukit yang sama.

Jika hal semacam bentuk tangki bensin seperti ini ga Av perhitungkan itu artinya masih banyak hal lain lagi yang juga tidak Av perhitungkan, sehingga dinyatakan tidak layak menjadi profesional 'transporter'. 



Selasa, Juli 19, 2011

Hari yang Aneh untuk Auva yang Konyol

Ini cerita sudah 3 bulan berlalu.

Ada begitu banyak tempat untuk jatuh di dunia ini. Tapi mengapa mesti di sana?

Hari yang cerah saat Av tiba-tiba ingin bersepeda keliling kota. Kupikir itu hari minggu ternyata masih Sabtu, tapi tak mengapalah hasrat terlanjur tinggi. Di bawah terik siang meluncur dengan Si Shopie Blue Image ke Condong Catur dimana fixie merah ferari beristirahat di kos  pemiliknya.

Istirahat beberapa jam, yang punya fixie tidur Av membawa kabur itu sepeda merah ngejreng. Kukayuh dari gang ke gang belok belok ganti nama jalan dan eng ing eng tidak ingat lagi tadi yang udah kulewati jalan yang mana aja.

Tibalah pada jalan yang sepertinya aku kenali. Pamela 6 lalu Indomaret….loh loh ini kan…(tidak salah lagi).  Jalan terus jangan pedulikan apa kata setan dalam hati. Melaju dan melaju dan akhirnya terus melaju tanpa kendali di turunan jalan dan bruk…..brrrrr….aaaaarrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhhhhhhh.  Hilang kendali dan terlempar dari sepeda, melayang sejenak, dan aspal dengan pipi kanan pada kecepatan 30km per jam (bayangin sendiri :P).

Where am I? tepat di depan gang jalan masuk sebuah kontrakan yang aku kenali.  Oh God….oh Yes…but ……oh No…. Ada begitu banyak tempat di dunia ini untuk jatuh, menjatuhkan diri ataupun nyungsep tapi kenapa mesti di sana. The night before I dreamed of him n his girl. The night before n the night before n before….damn. Masa iya Av dikirimkan padanya seperti bidadari yang jatuh dari sepeda. Itu sungguh lebay ya Tuhan.

Akhirnya masuklah Av ke kontrkan itu. Menjadi wanita yang datang membawa luka. Sakit, perih oleh luka di siku, lutut, pinggang dan pipi. Ga bawa dompet, uang, maupun hp. Meminta perban dan air minum. Andai kecelakaan parah hingga menyebabkan kematian aku akan menjadi wanita tanpa identitas (korban film :D). Untung kecelakaannya hanya menyebabkan lecet, haus,  dan heran… kenapa mesti di sana ya Tuhan, aku juga mempipikan pria itu malam sebelumnya dan seblelumnya lagi dan sebelumnya lagi.

Setelah mendapat minum dan betadine akhirnya saya kembali ke teman yang sedang tidur dan belum tau sepeda cakepnya itu kulukai. Melaju perlahan tapi terus melaju belok belok gang jalan dan akhirnya nyampe di blakang Amikom lagi, Av ga tau jalan pulang padahal lutut dan tangan udah nyeri banget.

Waktunya gunakan jurus jitu, tanyakan saja pada orang-orang. Nah begitu lebih aman. Akhirnya ambil jalan memutar memang lebih jauh dan lama, daripa jalan singkat tapi kesasar lagi sama aja ga nyampe-nyampe.
Sang teman yang sedang tidur seketika terlempar kembali ke dunia nyata saat Av kembali, dan ia tampak lebih lusuh dari Av yang barusaja terlempar dari sepeda.

Pipi kanan menjadi bakpao dengan tonjolan hitam kemerahan dan lengan kanan atas tak dapat menganggkat. Tenang ini hanya proses, hasilnya akan lebih cantik dari sebelumnnya :P. Hanya butuh istirahat cukup dan minum air putih minimal 2 liter sehari, supaya tidak mudah heran dan haus.

Selasa, Februari 15, 2011

Jendral Sudirman : Nasibmu Kini

Beberapa waktu lalu sempat dapt undangan dari seorang kawan untuk pengematan sampling tanaman kasrst di daerah rute gerilya Jendral Soedirman di Dusun Gelaran Karangmojo Gunungkidul. Dulu pernah ada cerita pahit di sini, beberapa tahun lalu, apapun yang terjadi sekarang toh cuma tinggal cerita. Di sesali pun hanya menambah penat.

Sampai sampai di Tugu peringatan itu beberapa kawan sudah berkumpul di sana. Seperti biasa, bercengkrama dan menarik urat-urat untuk tertawa. Beberapa pengunjung lain sedang memadu kasih.

Saya melihat jaket di ujung monumen. Lumaya tinggi. Anak-anak iseng ini telah melemparkan jaket dua orang kawan ku atas monumen. Akhirnya mereka harus saling memndorong dan memundak untuk dapat mengambil jaket di ujung monumen tersebut. Menjadi suasana yang cukup menghibur sore itu.

Saat duduk dan sepertia biasa ada orang-orang yang kakinya terus bergerak ke sana kemari, memeragakan apa yang ia ceritakan, sambil menyeret dan mengaduk-aduk apa yang ada di kakinya, di balik sampah-sampah daun muncul sebuah kondom bekas. Ya, kondom bekas di monumen tugu peringatan gerilya Jendral Soedirman. Sayang sekali cuma satu, dan mungkin itu pun dilakukan dengan buru-buru...I don't even know.


Akhirnya kami turun ke sungai sebagai teman memesan kopi dan memancing sedang sebagian yang lain melanjutkan identifikasi mereka. Sedangkan saya masih selalu menyibukkan diri dengan kamera saya.

Sore yang menyenangkan hari itu. bertemu kawan-kawan lama, kawan-kawan baru. Dan mereka yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hewan dan tumbuhan juga mereka yang sebaliknya sangat antusias dengan dengan keberadaan makhluk hidup di sekitarnya. semua berkumpul. dan saya hanyalah bagian yang tidak terlalu penting yang punya dunia sendiri tapi suka hinggap dan keluar masuk dunia-dunia orang lain.

Senin, Januari 03, 2011

Gara-Gara Sandal Jepit

Membaca tulisan Eka kurniawan mengenai sandal jepit di http://ekakurniawan.com/blog/sandal-jepit-2163.php#more-2163 saya jadi ingat kejadian dengan dosen beberapa semester lalu. waktu itu saya mesti mengumpul tugas ke ruang beliau. Sialnya beliau (red : dosen) melihat saya masuk ruanganya beralas kaki sandal. segera beliau menghujani saya dengan pertanyaan retoris tentang tata tertib dan kedisiplinan.


Salah satunya beliau bertanya apa alasan saya memakai sendal. Saja jawab 'Ibu mau jawaban jujur apa diplomatis?' itu adalah jawaban saya yang paling mengesankan hingga membuat dosen tersebut wajahnya berubah seperti tomat masak, dan teman saya menderita menahan tawa sekaligus pipis.

Tapi akhirnya jawaban jujur juga yang keluar meski jawaban jujurnya lebih konyol. Waktu itu saya punya sepatu warrior converse, sepatu termahal yang pernah saya miliki. Masing-masing sepatu bertali dua merah dan putih saya pasang semua sehingga tiap memakai saya harus duduk dan menalikan ke empat talinya. Itu membuat saya luar biasa malas memakai sepatu itu.

Akibatnya sang dosen merasa perlu membetulkan pikiran saya tentang kemalasan saya menalikan sepatu. Saya diganjar ceramah plus diskusi selama 3jam. Mengumpulkan tugas serta ujian lisan yang mestinya selesai 5 menit itu tidak terjadi karena ceramah berkhir pun karena adzan maghrib, teman-teman saya yang lain mesti menggu hingga hari berikutnya untuk mengumpulkan tugas dan ujian lisan. saya pun mengulang pertemuan dengan dosen tersebut keesokan harinya dan tantu saja saya harus memakai las kaki sepatu.

Kamis, Juli 08, 2010

Waspadai Pencuri Pakaian Dalam

Today is not holiday. Because holiday is just ordinary day, for an ordinary person (merendah cuy...).

Av bngun, mandi, k kmpus, ngerjain soal ujian slama 12 menit, mkan k kntin, trus plg. Nyuci pakaian yang dipisah dlm 3 jenis jeans, pkaian brwarna, n putih. Trus jemur d belakang kos.

Everything is alright smpai av menyadari something missing. A bra. Yup, a bra. What the...

Agak bingung memilih reaksi yg tepat. Akhirna cuma celingukan sambil cengar-cengir sendiri.

Somebody or maybe something only takes one bra. The purple one. What's going on with that creature?

Diusut-usut trnyata ga cuma av ja yang kehilangan pakaian dalem waktu dijemur di belakang kos. Setidaknya da 3 cewek yang dah lebih dulu jadi korban, ditambah av jadinya 4. Hohoho...jadi ngeri skaligus geli.

Denger-denger orang2 yg hoai nyuri pakaian dalem berhubungan dengen gangguan kepribadian maniak...ngeri ya!!!

Jangen sampe deh kena penyakit kayak gitu. Hargana emang ga seberapa tpi kalo ampe ketauan sanksi moralna yg ga ngenakin. Malu oey...(kalo msih punya seh).

Pastinya ga lagi-lagi dah jemur underwear d belakang kos. Tar kalo dipake melet gmana? Weks...:-P

Senin, Juni 28, 2010

PKU dini Hari

Thanx Buat kawan-kawan baikku nan lucu-lucu. Dah anterin aku ke rumah sakit jam 1.30 dini hari, serta buat cerita konyol dibaliknya dan hal-hal kocak selama disana.

Thanx telah menyarankan, merayuku, dan akhirnya mengancamku supaya akhirna ke dokter. Juga buat menjagaku selama di sana, dan memakai HP ku buat ambil foto-foto konyol kalian.

Thanx telah menahan tawa dan sedikit memplesetkan cerita saat dokter menanyakan kejadiannya.

Thanx telah membuatku terkikik di ruang periksa saat kalian menarik pintu sekuat tenaga, padahal dari jarak 7 meter aku bisa membaca tulisan "DORONG" di pintu itu.

Akhirna aku berterimakasih pada kalian kawan-kawanku nan karib dan pengertian tetap membiarkanku minum kopi setelahnya, meski kalian tahu aku bisa berhenti bernafas setiap saat karena minuman nikmat itu.

Thanx juga kalian tetap tertawa bersamaku meskipun kalian cemas bahwa aku belum menulis surat wasiat. Aku tetap menganggap kalian salah satu yang terbaik yang kupunya.



Kamis, Januari 21, 2010

Berkisah dan Berkawan

Ini tentang suatu kata pamit yang puitis namun tak jadi berakhir romantis.


Saat bangun pagi itu 12 Januari 2010, saya ingat betul ada kawan yang berulang tahun. Setelah basi-basi mengucap ulang tahun, barulah saya benar-benar menyadari kami akan jarang ketemu. Masa-masa menunggu yudisium udah lewat, tinggal wisuda di bulan april, dan kemungkinan dia ga akan dtg ke kampus lagi ampe hari wisuda. Yah, hilang satu lagi orang yang biasa mengisi hari-hari di kampus.

Bisa dibilang saya merasa sedih meskipun seharusnya bahagia. Setidaknya dia pergi karena lulus, bukan karena bosen kuliah.

Sore hari kami habiskan waktu bertiga, saya, teman yang dah ingin cepat-cepat menempuh hidup baru itu, dan seorang lagi kawan seangkatan yang masih menjelma sebagai sesama mahasiswa. Ia masih bercengkerama dengan tawa "sule"-nya. Capek ketawa kami tinggalkan base camp itu terkunci, mencari sesuap nasi ke bu kantin yang mau ngurusin kaum kere 'hore' seperti kami. Segala barang ditinggalkan begitu saja. Titik-titik air hujan mengiring langkah, dengan kecipak-kecipak genangan air dari orang-orang yang tak rela melepas masa kanak-kanak -macam kami.

Duduk bertiga. Kembali tertawa dengan update gosip yang sebenarnya dah basi "anak kandung dan peliharaannya". Ahh tapi sudahlah, itu cuma demi hiburan semata. Curahan hati tentang kisah cinta masing-masing seolah terlalu basi --basi adalah penghalusan dari istilah monoton, untuk orang-orang dengan banyak penggemar tapi nyaris tak laku sepertiku dan kawanku ini--, n menjadi bahan obrolan yang mengundang tawa, singkatnya adalah kisah cinta itu tinggalah lelucon.

Setelah perut kenyang, balik ke basecamp, masih bertiga. Masukin kunci ke lubangnya dan klek. Ga mau bergerak. Macet tanpa polisi jaga, runyam jadinya. Barang-barang masih ada di dalam. Cari obeng ke tetangga sebelah, cuma bisa buat nyopot gagang pintunya. Saat pak satpam melintas untuk kliling dengan sigap seorang kawan langsung laporan. Alhasil beliaupun dapat hiburan dengan dengan kami ditambah kunci yang mecet.

Empat orang mengerubuti pintu yang malang itu. Gagangnya copot, daunnya retak, dicongkel-congkel dan ditendang bergantian. Merasa terlalu sulit mencongkel dan sadis terhadap pintu itu akhirnya kami cuma bisa merasa salut terhadap para maling yang bekerja dengan cepat dan rapi. 4 jempol dari masiswa, 2 jempol dari sarjana, dan dua jempol dari satpam buat para maling sukses.

Akhirnya kusen kayunya pun ikut mengalami kemalangan. Sang pintu terpaksa dicongkel dengan linggis, dan kusen kayunya yang bercat putih baru namun sudah uzur menjadi korban kekerasan, sampe pecah pula. tak mengapalah toh pelakunya pak satpam...~...~.

Saat pintu selesai dicongkel hujan datang lagi. Melengkapi kesuraman hari yang beranjak malam. Sang sarjana pun mulai berpamitan dan berpetuah. 
"Hmmm...kalian yang akur ya disini berdua. Kelangsungan base camp ini ada di tangan kalian."
"Iya kak," dengan nada agak sendu supaya pas dengan suasana.
"Kalo D merasa Av lebih dominan, lebih baik katakan saja. n sebaliknya kl Av merasa D terlalu menyerahkan tangguh jawab, diobrolin dan dibagi tugas ja."
Tunggu Pak Sarjana, Koq kayak konseling perkawinan yah? Iya nggak seh??
"Tetep keep contact aja yah kita."
Ini yang paling bener. Namanya juga kawan.
 Akhirnya menangis-nangis ria. Dan akhirnya Pak Sarjana pamit mengejar bis ke rumahnya. Mengamtinya yang perlahan hilang dibalik tembok kampus. Mungkin yang terakhir kalinya.

Tinggal berdua di basecamp, lalu mulai memasang engsel gembok di pintu. Setelah selesai akhirnya satu kawan lagi pulang. Tinggal saya seorang diri mengingat-ingat sisa perpisahan barusan. Seorang demi seorang pergi, menempuh hidup barunya di dunia mahasiswa. Entah mengejar mimpi entah tersandung oleh realita dan tuntutan sosial. Huufh....life must go on.

Masa-masa berharga lewat sudah, tinggal saya harus menyusul kawan-kawan yang sudah mendahului. Toh hidup bukan untuk mengulang masa lalu --seindah apapun itu--, tapi menjalani sesuatu yang baru dan menjadikan jiwa lebih kaya.

"Av ending romantis memang tidak cocok untukku. Aku balik lagi. Kepaksa nginep sini. Coz ketinggalan bis," suara Pak Sarjana yang tinggal menunggu wisuda itu datang mengagetkanku.

Hhuuufh...memang tidak cocok untukmu kak.

Kamis, Juli 09, 2009

malem minggu mati gaya

taruhan bodoh di dini hari yang dingin. dingin-dingin sebenernya enak tidur, slimutan yang rapet. tapi tiga orang yang pikirannya emang agak cekak itu malah ngajakin melek ampe pagi. malah pake bikin taruhan segala.
jatah meleknya ampe jam 5, siapa yang nglanggar bakal kena hukuman buat nyium jempol kaki abang jangkung...sebenarnya mending tidur, lagian jempol kaki abang Jangkung lumayan sexy. tapi anak-anak usil itu nambahin satu aturan lagi, yaitu jempol abang Jangkung yang abis nginjek eeq ayam. buset dah....ahhh...nguantuk....tapi masa iya seorang auva akhirnya kemakan ide yang diciptain sendiri.
jempol...ohh...abang Jangkung. kalo ada yang lebih penting buat dikerjain itu adalah tidur.


jam lima lewat sudah...hore...tidur-tidur....tapi orang-orang (sebenarnya av sendiri) yang pikirannya cekak itu masih punya ide buat lanjutin taruhan ampe jam 9. hukuman masih sama. jempol kaki Abang Jangkung masih jadi idola.
orang-orang error korban begadang semalaman itupun akhirnya keluar kandang, joging. setelah dua putaran boulevard kampus yang penjangnya dah kayak di film meteor garden itu kami melanjutkan ke warung nasi.
duduk bertiga di pinggir jalan setengan jongkok, memasang muka melas dan berharap da yang ngasih recehan, or malah uang ribuan. tapi kog yang liat malah pada makin cepet yah...

Selasa, Juni 23, 2009

Cerita Nggak Seru Waktu Pelatihan Jurnalistik




Buset bener av kebagian wawancara polisi di jalan Malioboro. Padahal av berharap dapat jatahnya ma ibu-ibu di pasar Beringharjo atau malah SPG di mall. Apa daya av ga ikut menentukan siapa yang harus di wawancara. Sambil menyerah pada keadaan av pun berjalan ke pos polisi di perempatan nol kilometer. Di sana ada dua orang bapak polisi yang sedang berjaga. Setelah mengatakan maksud kedatangan bapak polisi menanyakan surat pengantar dari poltabes. (weleh mo wawancara aja pake surat pengantar segala, saya diantar teman tadi kesininya pak….) ya jelas av ga punya. Akhirnya bapak-bapak itu menolak untuk diwawancarai. Salah satu alasannya adalah tidak ada surat pengantar dan yang kedua mereka sedang bertugas. Mengatur kelancaran lalu lintas. Padahal kan lalu lintar diatur ma traffic light. Ya sud toh av juga gaa ngerti banget tugas polisi lalu lintas.
Akhirnya dari perempatan nol kilometer, av jalan kaki ke samping depan Maloboro Mall. Disana ada seorang polisi yang sedang bertugas. Lagi-lagi ia menanyakan surat pengantar. Berharap dikasihani av meminta sedikit waktu saja buat wawancara. Tapi bapak itu menolak dengan alasan bahwa ia sedang bertugas sendirian. Alasan yang tidak bisa disangakal. Apalagi hari itu minggu dan jalanan lumayan padat.
Av pun kembali berjalan kaki mencari polisi berseragam (kalo lagi ga pake seragam mana av tau itu polisi…keciali tu tetangga, atau mungkin teman lama). Akhirnya av samapi pos polisi di stasiun Tugu. Lumayanlah. Nggak sampe jalan kaki 5km. Huh…dapat juga. Sana ketemu D dan S yang juga belum dapetin target wawancaranya.
Akhirnya av mencoba minta ijin wawancara dengan polisi yang jaga di luar. Lagi-lagi ditanya surat pengantar dari poltabes. Tapi mereka mempersilahkan av buat mewawancarai polisi yang ada di dalam pos, sebab yang di luar pos sedang bertugas. Di dalam pos da dua orang polisi yang masih muda.
Pas wawancara da dua orang ketilang gara-gara salah jalan. Mereka ikut masuk ke pos. Kena tilang, trus harus bayar denda 20ribu. Aturannya yang kena tilang mesti bayar denda lewat bank BRI tapi sayang hari Minggu pas tutup. Akhirnya mreka harus ikut sidang hari senin, tapi dua orang itu nggak bisa sidang soalnya ujian semester. Pak polisi menawarkan hari Kamis, tapi mereka masih ujian. Akhirnya pak polisi nawar hp yang dibawa orang itu.
“Hapemu sing kui arep to dol ra?” (HPmu yang itu mo dijual ga?)
bayangin dialeknya kayak di film jagad X Code atawa Mengejar Mas-mas

“Sing niki mboten pak, nek sing niki nggih” (yang ini ga, tapi yang ini iya). Sambil mengeluarkan satu Hp lagi dari saku.
“Lha aku pingine sing kae mau. Nek sing iki piro?” (Lha aku maunya yang itu tadi. Kalo yang ini berapa?)
Yah..., kayaknya tadi lagi berunding tentang denda malah jadi jual beli hp.
Karena hujan turun D ngikut masuk ke dalam pos. Hujan lebat mambawa udara lembab dan dingin. Pak polisi pun improve, guna menunjukkan kebaikan hatinya. Beliau memesan es teh 6 dan sepiring penuh pisang goreng. Sekali-kalinya wawancara polisi dapet es teh dan pisang goreng. Mungkin begitu juga bagi orang-orang yang kena tilang itu. Mungkin baru pertama bagi mereka ketilang tapi dapat tumpangan buat berteduh, sekaligus es teh dan pisang goreng.
Setelah hujan reda kami bubaran. Pak polisi selesai jam tugasnya, Av, D, dan dua orang yang ketilang pamit buat pulang.
Pas pamitan, pak polisi memanfaatkan moment.
“Nomer hapene piro nduk. Wis duwe yank urung?” (nomer hapenya berapa neng? Dah punya pacar lom?)
“Wis rabi pak. Hapene nggone bojoku” (dah nikah pak. Hapenya punya suamiku). Kepaksa boonk dah.
“Ngapusi. Cah cilik wis rabi” (Boonk. Anak kecil masa dah nikah).
“Hehehe…”
“Mengko bengi nonton Ungu yo. Tak pethok.” (Ntar malam nonton Ungu yuk. Aku jemput.)
“Lho aku wis Rabi pak.” (Lho, saya udah nikah pak).
“Medit.” (Pelit).
“Soir yo Pak bali dhisik.” (Soir ya Pak. Pulang dulu).
“Dilit meneh. Mengko tak terke.” (Bentar lagi. Ntar tak anterin).

“Hehehe…bali sek yo Pak. Peace.”

Begitulah kira-kira pembicaraan Av dengan pak polisi itu. Maksih pisang goreng dan es tehnya. Akan kukenang selalu.

Anak Kampung Pulang Kampung


Nggak kayak orang lain yang bisa teriak horeeeee tiap kali pulang kampung (pulkam). rumah ma kampus nggak jauh-jauh amat. 3-4 jam perjalanan dah nyampe rumah. bisa pulkam sering-sering, dan dah nggak spesial lagi.
suatu hari pas pulkam nyampe rumah dah kemaleman. sekitar jam 7 mungkin. masalah bukan baru jam 7 atau jam berapa. tapi tampungan air kosong n nggak ada air. nyalain mesin malam kayak gitu mustahil. soalnya tiap malam voltase pasti turun.
Ibuku yang punya ide biar av mandi di tetangga aja. oke dah nggak masalah, asal bisa mandi n tidur nyenyak. toh dulu pernah mandi di situ juga.
kamar mandi tetangga tu ada di luar rumah. lebih tepatnya di depan rumah, deketan ma sumur. soalnya ngambil airnya masih pake kerekan. kerekan tuh sejenis katrol tempat tambang ditaruh, biar narik ke atasnya lebih enteng, trus embernya diiketin di ujung tambang gitu. ntar kalo airnya dah masuh ke ember trus ditarik ke atas. yah...kalo mau mandi mesti n kudu kringetan dulu.
abis nimba n air dah cukup, masuklah av ke kamar mandi. baru masuk dengar suara orang ngobrol. baru av inget kalo av mandi terakhir kali waktu masih SD. setelah dah jadi mahasiswa kerasa banget kalo dinding kamar mandi itu nggak terlalu tinggi, n sekaligus nggak ada atapnya. sempet kepikiran juga gimana kalo adegan mandi av direkam lewat satelit kemudian dinikmati jutaan umat yang ada di seluruh dunia. ngeri banget. bisa-bisa jadi idola sejuta umat gantiin Maria Ozawa...wkwkwkwk
masih bermasalah dengan orang ngobrol di sebelah, tuh kamar mandi deket ma perempatan. nggak deket banget seh tapi was-was aja. soalnya tingginya perempatan tuh lebih tinggi daripada lantai kamar mandi sekitar 1 meteran. di perempatan itu orang-orang pada nongkrong and ngobrol. kalo ada yang iseng trus bawa binocular gimana ya....ah positif thinking aja.
av mencoba rilex dan melihat ke arah bintang-bintang, ahhh...tapi sebenaranya masih mikirin gimana kalo ada satelit yang ngrekam yah. waktu liat ke atas baru kusadari disitu tumbuh pohon kelapa menjulang tinggi pas di atas kamar mandi...heh...?%$#@#. nggak ada kelapa tuanya seh. tapi yang muda kan bisa jatuh sewaktu-waktu juga. manusia aja yang muda bisa mati duluan daripada yang tua....lagian kayaknya nggak enak deh kejatuhan kelapa. hasrat mandiku lagi
on fire. jadi berdoa aja anginnya kenceng jadi kalo da kelapa or daunnya jatuh nggak jatuh ke kamar mandi.
lagi mo buka baju da sesuatu datang lagi. Alamak...apa itu bergerak dengan tenang di dinding kamar mandi.....wuihhhh ULAT BULU. Dia berjalan dengan tenangnya. matanya melotot dan bulunya bediri....hah...sexy kali kau ini. tapi sentuh sedikit gatal badanku.
kalo dah gini komplexnya permasalahan tak mungkin ritual mandiku akan terlaksana seperti biasa. NGGAK KUKU deh...

BUKAN MAGIC BUKAN HANTU

Pernah waktu kecil sepedaan ma sodara-sodara sepupu. EEhh...Si A jatuh gara-gara tabrakan ma Si S. untungnya cuma tabarakan sepeda bukan kereta ataupun odong-odong. Si A nangisnya kuenceng banget. kedengeran se antero rumah aja seh. orang-orang rumah pada kluar jadinya. takut denger nangisnya si A, Si S dah kabur duluan. akhirnya Av dah yang ditanya.
"Si A angis kenapa?"
"jatuh. Tabrakan ma Si S."
"Si S-nya kemana?"
"Nggak tau tadi ditinggal kedip ilang."
kayak dapet aba-aba dari dirigen paduan suaranya, empat orang yang baru keluar dari rumah itu ketawa barengan. Apa coba yang lucu. cuma bilang Si S ditinggal kedip ilang. emang begitu koq.
Setelah puas ketawa. mereka bilang, "Emangnya S hantu, atau magic? ditinggal kedip bisa ilang?" mereka tanya gitu cuma buat ketawa lagi.
sampai sekarang bagiku itu nggak lucu. nggak harus hantu atau magic kan bisa bikin dia ilang selama ditinggal kedip. waktu itu Av liat S naek sepeda pas udah di pojokan rumah. so dalam sepersekiat detik dia ga kliatan lagi ketutup dinding bangunan. apanya yang lucu coba? kenapa mesti ketawa segitunya. ampe sekarang malah....susah banget seh ngasih orang penjelasan.